Denpasar — Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa IV) sukses diselenggarakan sebagai forum ilmiah yang mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia. Seminar ini merupakan seri keempat yang secara konsisten menghasilkan luaran berupa prosiding ber-ISSN sebagai kontribusi nyata terhadap pengembangan keilmuan di bidang bahasa dan sastra.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Rektor yang dalam sambutannya menegaskan bahwa bahasa merupakan identitas bangsa, sementara sastra berperan penting dalam menyemai hati nurani. Pernyataan tersebut menegaskan urgensi penguatan pendidikan bahasa dan sastra di tengah dinamika sosial dan perkembangan zaman.

Seminar dilaksanakan melalui dua skema utama, yakni sesi panel dan sesi paralel. Pada sesi panel, hadir dua pembicara kunci, yaitu Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd. dari Universitas Negeri Malang dan Dr. Dewa Ayu Widiasri, M.Pd. dari Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia. Keduanya memaparkan gagasan strategis terkait penguatan literasi, inovasi pembelajaran, serta relevansi bahasa dan sastra dalam membentuk karakter bangsa.
Sementara itu, sesi paralel diisi oleh 41 pemakalah yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan institusi pendidikan, di antaranya Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang, Universitas Riau, BRIN, IKIP Saraswati Tabanan, Universitas Dwijendra, STKIP Persada Khatulistiwa Sintang, SMP Negeri 1 Laboya Barat, STKIP Agama Hindu Amlapura, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Malang, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Universitas Singaperbangsa Karawang, STKIP Muhammadiyah Pagaralam, dan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Ragam institusi ini menunjukkan luasnya partisipasi dan tingginya minat terhadap isu-isu pendidikan bahasa dan sastra.

Dalam penutupan seminar, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni menekankan pentingnya keberlanjutan program studi keguruan di tengah berbagai dinamika kebijakan dan wacana pemerintah. Ia menyampaikan bahwa program studi keguruan harus mampu bertahan dan adaptif terhadap kepentingan ideologi, kebangsaan, dan peradaban, khususnya dalam menghadapi isu penutupan program studi yang dinilai tidak relevan.
Dengan terselenggaranya Sandibasa IV ini, diharapkan lahir gagasan-gagasan inovatif serta kolaborasi berkelanjutan yang mampu memperkuat eksistensi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia sebagai pilar penting dalam pembangunan karakter bangsa.


