Pelepasan Penuh Warna: FBS UPMI Bali Lepas 86 Lulusan, Luncurkan Tagline “Kritis, Kreatif, Humanis”

You are currently viewing Pelepasan Penuh Warna: FBS UPMI Bali Lepas 86 Lulusan, Luncurkan Tagline “Kritis, Kreatif, Humanis”

Denpasar, 11 Agustus 2025 — Senyum, tawa, dan raut haru bercampur menjadi satu di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali. Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) tengah menggelar Yudisium dan Pelepasan Sarjana XLIX serta Magister II, melepas 86 lulusan untuk melangkah ke babak baru kehidupan.

Acara dibuka dengan gemulai Tari Sekar Jagat yang dibawakan tiga penari muda penuh karakter, seolah menjadi simbol perjalanan para lulusan yang sarat warna. Lagu kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan Pancasila, dan Mengheningkan Cipta menambah khidmat suasana.

Namun pelepasan kali ini bukanlah momen biasa. Untuk pertama kalinya, FBS UPMI Bali meluluskan mahasiswa program sarjana dengan tugas akhir nonskripsi—terobosan yang memungkinkan karya inovatif di bidang sastra, jurnalistik, dan seni rupa menggantikan skripsi tradisional. “Ini adalah babak baru dalam pendidikan tinggi yang lebih fleksibel dan relevan dengan kebutuhan masa depan,” ujar Dekan FBS, Dr. I Made Sujaya, S.S., M.Hum., di hadapan hadirin.

Dekan juga memperkenalkan tagline baru fakultas: Kritis, Kreatif, dan Humanis. Tiga kata kunci yang, menurutnya, lahir dari jantung keilmuan FBS yang menekuni bahasa, sastra, seni, dan budaya. “Kritis bukan sekadar mencari kesalahan, kreatif bukan hanya melahirkan hal baru, dan humanis adalah menempatkan kemanusiaan sebagai pusat nilai,” jelasnya.

Momen ini juga menjadi ajang apresiasi bagi lulusan terbaik. I Komang Dodik Muliarta, S.Pd., M.Pd., meraih predikat tertinggi Program Magister Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dengan IPK 3,99. Sementara itu, Kadek Windari., menjadi lulusan terbaik Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah dengan IPK 3,95.

Rektor Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum. menyampaikan informasi mengenai program Satu Keluarga Satu Sarjana dari Pemprov Bali. Dalam kesempatan itu, Prof Suarta mengajak para yudisium untuk menginformasikan program ini kepada sanak keluarga maupun kerabat. “Ini program yang sangat bagus, dan kesempatan ini harus dimaksimalkan,” ungkapnya. 

Dikatakan, program ini merupakan kuliah gratis selama delapan semester, dan tidak membayar UKT. Untuk di UPMI Bali, program ini sebanyak 100 kuota. “Syaratnya sederhana, satu keluarga tidak ada sarjana,” ujarnya.

Dekan Sujaya menegaskan bahwa pelepasan ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari “kampus kehidupan nyata” yang penuh tantangan. Ia mengutip penyair Umbu Landu Paranggi: “Hidup takkan pernah aman, kapan dan di manapun, selamanya terancam bahaya.”

Sebelum menutup sambutan, Sujaya membagikan kisah inspiratif tentang seorang guru bahasa dan seni di desa terpencil yang mengajar tanpa listrik, proyektor, atau buku memadai. Dengan cerita dan lagu, sang guru menyalakan cahaya kecil dalam hati murid-muridnya—cahaya yang kelak tumbuh menjadi karya besar. “Kalian mungkin tidak akan mengubah dunia sekaligus, tetapi kalian bisa menyalakan satu cahaya kecil di tempat kalian berada,” pesannya kepada para lulusan.

Dan siang itu, di tengah tepuk tangan panjang dan sorot mata bangga, cahaya-cahaya kecil itu dilepaskan. Menuju panggung kehidupan yang lebih luas.