Lagi, Prodi PBID Luluskan Mahasiswa Lewat Jalur Nonskripsi

You are currently viewing Lagi, Prodi PBID Luluskan Mahasiswa Lewat Jalur Nonskripsi

Tiga Mahasiswa Terbitkan Tiga Buku Sastra Rabu (1/7) pagi. Di lantai III gedung baru Kampus UPMI Bali tengah berlangsung ujian tugas akhir. Tiga mahasiswa tidak datang membawa skripsi setebal ratusan
halaman. Mereka datang membawa buku-buku yang mereka tulis sendiri. Satu berisi puisi Bali modern, satu berisi geguritan warisan seorang dalang, dan satu lagi berisi kisah-kisah kuliner khas Bali yang selama ini luput dari sorotan.


Ida Ayu Gede Agung Putri Wardani, I Made Indra Sanjaya, dan Ni Putu Vira Asri Agustini adalah tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah (PBID), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UPMI Bali, yang memilih jalur tugas akhir bukan lewat skripsi, melainkan lewat karya sastra dan jurnalistik sastrawi.

Di hadapan penguji internal dan penguji eksternal dari kalangan sastrawan dan wartawan, karya-karya itu diuji layaknya sebuah skripsi, dengan pertanyaan, kritik, dan catatan perbaikan. Ketika Warisan Ayah berubah jadi karya ilmiah bagi Indra Sanjaya, jalan ini dimulai bukan dari perpustakaan kampus, melainkan dari rumah. Sebagai putra dalang I Ketut Muada, yang dikenal dengan nama panggung Joblar, Indra tumbuh dikelilingi dunia pewayangan. Suatu hari, ayahnya menyerahkan sebuah catatan lama—warisan dari sang guru nabe tentang seluk-beluk dunia pewayangan. Alih-alih menyimpannya sebagai arsip keluarga, Indra mengubahnya menjadi geguritan berjudul Geguritan Dharma Pawayangan, atas saran dosen pembimbingnya. Sebagai dalang muda, ia melihat karya itu bukan sekadar syarat kelulusan, melainkan cara mewariskan pengetahuan leluhur kepada khalayak yang lebih luas.

Puisi sebagai ruang perlawanan kreatif Putri Wardani, yang karya puisinya kerap dimuat di media massa Bali, menuangkan pengalamannya dalam Lawate Surup ring Bale Gede: Pupulan Puisi Bali Anyar. Ia mengaku sempat berpikir jalur nonskripsi akan lebih ringan. Kenyataannya, ia justru dituntut menciptakan sesuatu yang orisinal—memadukan puisi Bali anyar dengan sentuhan modern, sebuah upaya yang menurut penguji eksternal, sastrawan I Putu Supartika, patut diapresiasi meski masih menyisakan kekurangan sebagai karya pemula.

Dari Warung ke Halaman Buku Sementara itu, Vira Asri Agustini menempuh jalan berbeda. Sebagai penulis di salah satu media daring Bali, ia mengumpulkan kembali tulisan-tulisannya di tatkala.co dan merangkainya menjadi Sejuta Rasa Selaksa Cerita: Sehimpunan Kisah tentang Kuliner Khas Bali. Baginya, kuliner Bali bukan hanya soal rasa, tapi juga cerita di baliknya—kisah yang menurutnya sering tenggelam di balik popularitas rasa itu sendiri. Bukan Sekadar Buku, tapi Pertanggungjawaban Ilmiah

Ketua Prodi PBID FBS UPMI Bali, Gede Sidi Artajaya, menjelaskan bahwa jalur proyek inovatif karya sastra ini telah berjalan sejak 2025 dan selaras dengan capaian pembelajaran lulusan (CPL) program studi. “Tiga mahasiswa ini adalah angkatan kedua; tahun sebelumnya hanya dua mahasiswa yang menempuh jalur serupa,” kata Sidi.

Di balik buku yang mereka terbitkan, ketiganya juga wajib menyusun laporan tugas akhir berisi latar belakang penciptaan, proses kreatif, deskripsi karya, hingga relevansinya bagi dunia pendidikan—semacam pertanggungjawaban ilmiah atas proses kreatif yang telah mereka tempuh. Guru yang Berkarya, Bukan Sekadar Mengajar.

Dekan FBS UPMI Bali, I Made Sujaya, menyebut proyek ini sebagai wujud nyata dari kurikulum outcome based education (OBE) dan konsep kampus berdampak, sekaligus implementasi Permendiktisaintek Nomor 39/2025 tentang Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi.

Sastrawan sekaligus wartawan I Made Adnyana Ole, yang turut menguji, berharap para lulusan ini kelak tak hanya menjadi guru bahasa, tetapi juga guru yang berkarya—penulis dan pengarang yang lahir dari ruang kelas.

Sastrawan tradisional Bali, Nyoman Suprapta, yang biasanya justru menjadi objek penelitian mahasiswa, mengaku terkejut sekaligus bangga. Untuk pertama kalinya, ia menyaksikan mahasiswa tidak meneliti karya orang lain, tetapi menciptakan karya sastra mereka sendiri. Baginya, ini adalah hal yang layak ditumbuhkan lebih jauh di dunia pendidikan tinggi.

Tiga buku, tiga jalan kreatif yang berbeda—puisi, geguritan, dan jurnalisme sastrawi—namun bermuara pada satu keyakinan yang sama bahwa ijazah sarjana bahasa tak melulu lahir dari tumpukan data dan angka, tapi juga bisa lahir dari sunyinya proses mencipta. (*)