Lepas 67 Calon Wisudawan, Dekan FBS Ingatkan Jangan Jadi “Sarjana Kertas”

You are currently viewing Lepas 67 Calon Wisudawan, Dekan FBS Ingatkan Jangan Jadi “Sarjana Kertas”

Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali menggelar acara pelepasan sarjana dan magister, Rabu, 5 Agustus 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Kampus UPMI Bali. Para calon wisudawan yang dilepas sebanyak 67 orang, terdiri atas enam orang magister (S2) dan 61 orang sarjana (S1). Dekan FBS, I Made Sujaya berpesan agar para calon wisudawan jangan menjadi “sarjana kertas”, melainkan menjadi sarjana yang adaptif, terus belajar meningkatkan kompetensi dirinya.

Ketua Panitia Pelepasan, Pande Putu Yogi Arista Pratama menjelaskan para calon wisudawan yang dilepas berasal dari Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Magister (S2) sebanyak 6 orang, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Program Sarjana (S1) sebanyak 15 orang, Prodi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik Program Sarjana (S1) sebanyak 37 orang, dan Prodi Pendidikan Seni Rupa Program Sarjana (S1) sebanyak 9 orang.

Lulusan Terbaik Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Magister diraih I Ketut Budiarta, S.Pd., M.Pd., dengan masa studi 4 semester, IPK 3,96, predikat dengan pujian. Lulusan Terbaik Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah diraih Ni Luh Widya Antari, S.Pd., dengan masa studi 8 semester, IPK 3,93, predikat dengan pujian. Lulusan Terbaik Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik diraih Magdalena Sitka Desari, S.Pd., dengan masa studi 8 semester, IPK 3,94, predikat dengan pujian. Lulusan Terbaik Program Studi Pendidikan Seni Rupa diraih I Komang Yogi Swidarta, S.Pd., dengan masa studi 8 semester, IPK 3,94, predikat dengan pujian.

Bukan “Sarjana Kertas”

Atas nama Fakultas Bahasa dan Seni, Dekan FBS mengucapkan selamat menempuh hidup baru sebagai sarjana dan magister. Mengutip novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas karya J.S. Khairen, Dekan Sujaya mengingatkan para calon wisdawan FBS agar jangan menjadi “sarjana kertas”.

Menurut Sujaya, dunia kini memang sedang berubah. Jalur menuju pekerjaan tidak lagi tunggal. Bukan hanya gelar sarjana, yang diperhitungkan kini juga kemampuan praktis, pengalaman, portofolio, sertifikasi, dan berbagai bentuk kompetensi.

Gelar sarjana, kata Sujaya, mungkin tidak lagi menjamin pekerjaan. Tetapi pendidikan sarjana idealnya membentuk kemampuan untuk memahami persoalan secara sistematis, mencari bukti, menganalisis, berargumentasi, mengambil keputusan, lalu menemukan solusi hingga akhirnya menciptakan karya terbaik.

“Ini pembentukan kapasitas berpikir yang matang melalui proses yang lebih panjang, melalui membaca, berdiskusi, meneliti, menulis, berdebat, bahkan mengalami kegagalan, menerima kritik, dan merevisi pemikiran. Semua itu didapat melalui proses pendidikan kesarjanaan dan kemagisteran. Ungkapan ‘bukan sarjana kertas’ bukan berarti antigelar, melainkan menolak reduksi sarjana menjadi sekadar pemilik ijazah,” kata Sujaya.

Kritis, Kreatif, Humanis

Dekan Sujaya juga mengingatkan para calon wisudawan lulus pada zaman ketika artificial intelligence (AI) mampu menulis, menerjemahkan, membuat gambar, menghasilkan musik, mengolah data, bahkan membantu penelitian dalam hitungan detik. Namun, ketika mesin semakin mudah menghasilkan jawaban, manusia semakin membutuhkan kemampuan untuk menentukan pertanyaan mana yang layak diajukan dan jawaban mana yang layak dipercaya.

Itu sebabnya, FBS UPMI Bali berikhtiar tidak hanya membekali para calon wisudawan dengan ilmu dan pengetahuan, tetapi juga bekal kecakapan hidup yang relevan sebagaimana tagline atau moto FBS, yakni kritis, kreatif, dan humanis. Sikap kritis dalam berpikir sangat dibutuhkan di tengah banjir informasi, algoritma, hoaks, dan jawaban instan. Kreatif dalam berkarya menjadi penting agar lulusan FBS tak hanya menjadi pengguna teknologi, melainkan pencipta gagasan. Ketika teknologi semakin canggih, kemanusiaan justru harus semakin kuat. Karena itu, lulusan FBS wajib memiliki karakter humanis dengan menjaga empati, menghormati perbedaan, membangun harmoni dan menjunjung integritas. (*)